Tampilkan postingan dengan label Susukan Comal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Susukan Comal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Ketua PPS Berkuda Kawal Publikasi Pemilu Pileg


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - Publikasi Pemilihan Umum (Pemilu) Pileg dan DPD di Desa Susukan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, baru-baru ini (6/4) diadakan dengan pawai mobil keliling desa, pasukan berkuda dan konvoi motor.
Sosialisasi ini diselenggarakan agar masyarakat lebih mengenal dekat arti sebuah pesta demokrasi sehingga tercipta iklim sejuk serta situasi kondusif. Dan terbentuk pemilu damai di masyarakat, ujar Ketua PPS Desa Susukan Ali Sodikin SPd., yang berkuda ala Patih Gajah Mada dari Majapahit.
Dalam hal ini, diharapkan dalam pemilu grafik kehadiran pemilih bisa meningkat serta mengurangi angka golput pada hari Rabu 9 April 2014, lanjut Ali, ini murni ide warga Desa Susukan yang mencintai kedamaian. Tidak ada Juklak atau Juknis serta Bintek dari KPU atau Pemkab. Pendanaan kegiatan tersebut diperoleh dari swadaya masyarakat.
Acara ini diikuti oleh 70 anggota KPPS dari 10 TPS Desa yang ada dan puluhan warga berduyun-duyun dari enam dukuh yakni Dukuh Bantakan, Tunggul, Kabongan, Tegalan, Tengah dan Dukuh Kedawung.
Semoga dari 4.197 jiwa DPT Desa Susukan bisa hadir capai angka 100% untuk kali ini, tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya, kata Kepala Desa Irfanuddin di Balai Desa sebagai tempat start/finish pawai publikasi pemilu tersebut.
Panitia juga menyediakan puluhan bingkisan atau doorprize untuk diundi bagi peserta pawai. Sebagai penyemangat acara tersebut diramaikan dengan hiburan organd tunggal setempat dengan artis lokal yang tidak kalah merduanya dibanding group D’T3RONG. (look)

Sabtu, 22 Maret 2014

Media Warga, Desa Susukan Comal Pemalang

Media Warga Desa Susukan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, motto "Dari Warga Untuk Warga" dengan Tim Media Warga (Timwork) : Sutrisno, S.Pd. (Ketua), Hartini, ST. (Redaksi), Rojiun, Panut, Satoto, Dikyan (Anggota).

Editor dan layout bengkel seni PANDU member of art ambassador Pemalang City.

Koordinator LKM Desa Susukan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah adalah Ali Sodikin, S.Pd. dan anggotanya sebagai berikut : Ali Sodikin, Dwi Joyo, Mei Ningsih, Surono, Mustofa, Siti Maemunah, Dikyan, Sukarti, Harini, Bambang Susmardiyanto, Bejo Utomo, Nurudin, Manisah. (loOk)










Senin, 21 Oktober 2013

Masjid Al Muhsinin Susukan Kurban 4 Sapi 14 Kambing


Pemalanghariandialog.com/Dialog – Masjid Muhamadiyah Al Muhsinin Desa Susukan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah di hari raya Idul Adha tahun 1434 H ini melaksanakan penyembelihan kurban sapi empat ekor dan kambing enam belas ekor.
Pimpinan Muhamadiyah ranting Susukan, Rokhman, melalui Ali Sodikin SPd anggota Dewan Ranting menjabarkan, bahwa kurban kali ini adalah murni swadaya warga Muhamadiyah ranting Susukan. Tidak ada titipan dari instansi atau caleg tertentu.
Disinggung akhir-akhir ini marak promosi oknum caleg tertentu, mengingat tahun ini adalah pasca tahun politik Indonesia, warga Susukan sudah bisa memilah-milah yang mana kepentingan pribadi dan mana kepentingan politik sesaat. “Alhamdulillah, penyembelihan kurban murni niat ibadah tidak ditunggangi kepentingan politik praktis atau kepentingan oknum caleg yang disengaja mencari keuntungan pribadi,” lanjut Ali.
Empat ekor sapi kurban tersebut yang dikoordinir panitia kurban Masjid Al Muhsinin, ditopang dari swadaya 28 warga, yakni masing-masing sapi digotong 7 warga dengan harga kurang lebih 15 juta. Dan empat belas ekor kambing didapat dari 14 warga seharga 2,5 jt/ekor. Belum lagi warga Muhamadiyah yang kurban di rumah masing-masing.
“Pelaksanaan kurban sudah berjalan lama dengan cara swadaya dari tahun ke tahun. Kurban ini diselenggarakan semata-mata karena syiar Islam,” tandas Ali.
Kesadaran warga memang sudah ditanamkan jauh-jauh hari, didasari karena iman dan komit saling memberi kepada warga yang tidak mampu, lanjut Ali. Hal ini bisa saja dilaksanakan oleh siapapun dalam menjalankan ibadah kurban, dengan cara menabung tiap bulan 200 rb, maka tepat satu tahun tabungan tersebut cukup untuk membeli satu hewan kurban, seekor kambing besar. (look)

Selasa, 13 Agustus 2013

Ali Sodikin, SPd.SD. (PSHT)


Keluarga Kang Mas Ali Sodikin, SPd. SD.
Warga Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Pemalang
( Tk.2 )

Jalan Terate Desa Susukan, Kecamatan Comal
Kabupaten Pemalang 52363 Jawa Tengah
HP. 0856 4255 4254, 0878 3059 8434.




Senin, 29 Juli 2013

Gonor telah Mati Suri Tiga Dasa Warsa

Pemalang, hariandialog.com/Dialog - Kesenian tradisional Gonor di Desa Susukan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, telah mati suri sampai tiga dasa warsa. Kini telah bangun dari tidur panjangnya untuk hadir dan mengisi khasanah seni budaya daerah.
Kami ingin meniupkan nafas ke tubuh Gonor agar hidup kembali yang lama hilang bahkan telah mati ditelan waktu. Bersama rekan-rekan dan masyarakat akan bekerja keras menghidupinya,” ujar Ali Sodikin SPd salah satu tokoh masyarakat setempat (30/7) pada Dialog.
Dihimpun dari berbagai sumber, kesenian Gonor ini pernah hadir dan dikembangkan oleh lurah setempat pada jaman Kolonial Belanda. Pendiri awal tidak diketahui namanya. Pada masa itu pun disinyalir Gonor adalah warisan dari leluhur lurah saat itu. Sekitar tahun 1980-an Gonor menghilang dan terkubur waktu sampai sekarang 2013.
Sebagai pelaku sejarah saat itu, “Saya siap untuk berkiprah kembali agar Gonor eksis seperti semula sebagai kesenian tradisonal yang tidak ada di desa lain. Saya rindu Gonor,” ujar Untung perangkat Desa Susukan selaku pemain Gonor pada jamannya sewaktu masih anak-anak.
Diketahui Gonor adalah kesenian tradisional lokal sebagai ujud protes terhadap pemerintahan Belanda yang kejam. Sehingga banyak masyarakat hidup kelaparan. Akhirnya dari seniman desa setempat diciptakan sebuah permainan semacam kuntulan yang dimainkan setiap malam bulan purnama keliling desa, dengan tujuan guna membakar semangat hidup walaupun dirundung sengsara.
Nama Gonor diambil dari kata Ono Sego Nor-Noran (ada nasi pada berebutan. Red) disingkat Gonor. Sebab yang dimakan pada saat itu terkadang nggok-nggokret, gaplek atau tiwul.

Pada intinya saya mendukung dengan digali dan bangkitkan kesenian Gonor ini. Tapi jangan seperti nyalanya blarak. Seketika membara lalu padam. Pihak pemerintah desa akan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan,” ujar Irvanudin Kepala Desa Susukan belum lama ini pada Dialog. (look)