Tampilkan postingan dengan label Sarwodadi Comal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sarwodadi Comal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2014

Sarwodadi Ikuti Lomba KTT Tingkat Provinsi



Tim Penilai Lomba KTT Provinsi Jawa Tengah saat meneliti berbagai produk olahan hasil ternak itik, di Balai Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Pemalang, Dialog - Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, belum lama ini ikuti lomba Kelompok Tani Ternak (KTT) tingkat Provinsi Jawa Tengah mewakili kabupaten Pemalang.

“Kelompok Tani Ternak Desa Sarwodadi selama mengikuti lomba KTT tingkat Jateng, tahun-tahun sebelumnya belum mampu raih juara pertama sejak tahun 1990,” ujar Ir Supriyantopo, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang. Ia berharap tahun ini KTT Desa Sarwodadi meraih juara I tingkat Provinsi sehingga berhak maju ke tingkat Nasional.

drh. Saiful, Ketua Tim Penilai KTT Provinsi Jateng, kagum melihat semangat anggota KTT Sarwodadi dalam menghadapi penilaian ini. Terlihat saat menyambut kedatangan Tim Penilai begitu antusias, ditambah Tim Penilai banyak menemukan kelebihan yang tidak dimiliki oleh KTT di daerah lain.

“Inovasi olahan hasil ternak dalam variasi bentuk ini menarik sekali ditambah para penyambut Tim Penilai memakai seragam Batik Pemalang disertai yel-yel. Hal ini pantas ditampilkan dalam lomba tingkat nasional nanti,” lanjutnya.

Kelebihan tersebut akan dipadu dengan penilaian administrasi, meliputi cara pembibitan ternak, pengembangan, pengolahan hasil produksi, perolehan bahan pakan dan seberapa jauh KTT dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tim penilai menemukan suasana lain saat berada di kandang tidak mencium bau atau kotoran itik. Hal ini karena diterapkannya tekhnologi tepat guna, sebuah temuan dari peneliti Unsoed Purwokerto yang diinformasikan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang, dalam melakukan pembinaan kepada KTT.

“Saya hanya melakukan yang terbaik dan sesuai kemampuan kami, agar desa ini lebih maju dari sebelumnya,” ujar Kepada Desa Sugiyono, ketika dimintai keterangan, seputar harapan ke depan terkait Kelompok Tani Ternak yang dilombakan. (look)

Selasa, 10 September 2013

Bengkelung dan Kolak Telur


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - “Makanan yang satu ini tidak bisa diproduksi oleh daerah manapun ,” ujar tokoh masyarakat Abu Hasan Sutrisno, Dukuh Bengkelung, Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Sutrino yang akrab dengan panggilan Mbah Kelung ini menjabarkan, pembuatan kolak telur memang unik. Ada resep tertentu yang tidak bisa ditiru oleh orang luar Bengkelung. Dan resep ini tidak akan bocor ke luar wilayah Bengkelung. Inilah yang unik, walau belum ada konsensus bersama, warga Dukuh Bengkelung dijamin 100% akan merahasiakan resep kolak telur.
Diantara keunikannya adalah cara pembuatan kolak telur. Disaat air mendidih 100 derajat celcius kuning telur bebek (itik) langsung dimasukan dalam air yang mendidih tersebut, akan tetapi tetap utuh bulat. Kuning telur tidak pecah atau rusak. Dan bulatan kuning telur setelah matang makin keras dan kenyal, gurih, mengenyangkan, lanjut Mbah Kelung.
Terpisah, Kepala Desa Sarwodadi Sugiyono kepada Dialog menjelaskan, bahwa kolak telur Bengkelung memang sudah dikenal di lingkungan pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Setiap Kabupaten punya hajat atau ada tamu khusus luar kota selalu memesan kolak telur dari sini. Kolak telur tidak bisa ditiru dan diajarkan ke luar wilayah Bengkelung.
Dukuh lain dalam satu Desa Sarwodadi pun tidak bisa membuat kolak telur,” tandas Giyono kepada Dialog. Kolak telur itik Dukuh Bengkelung memang unik tidak bisa ditiru resepnya oleh siapapun. (look)

Sabtu, 13 Juli 2013

Mbah Singodikromo

MBAH SINGODIKROMO





Makam Mbah H Nasdan Singodikromo bin Blongkot Abdurrahman
Alamat keluarga: Jalan Pelita 2 Sarwodadi Kasowetan RT.011 RW.002 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52363 Jawa Tengah. CP. loOk 0877 6463 8055 




LAYANG KEKANCINGAN
Mugiyo dados pepenget kagem kawulawarga



Candi Mbah Kramat Jati Kasowetan:

Ingkang dados papan dununging angragasukma/oezlah/berkhalwat.
Ingkang sumareh wonten saklebetipun pasareyan cungkup Candi Padukuhan Kasowetan, Dusun Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52363 Jawa Tengah, ingkang kawentar Mbah Kramat Jati punika sejatosipun petilasan ingkang kinormat Kangdjeng Sjekh Maoelanna Maghribi V sakwekdal lelabetan dhumateng jejibahan agung syiar agami Islam.

Pun santri dalah sedaya penderek panjenengan Kangdjeng Sjekh Maoelanna Maghribi V istirahipun wonten Padukuhan Kasokulon, Dusun Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52363 Jawa Tengah, sakpunika dados petilasan kramat Sanggrahan (Pesanggrahan) Kasokulon

Kangdjeng Sjekh Lanna V
Kangdjeng Sjekh Lanna VI
Kangdjeng Sjekh Lanna VII

(bit kawit)

H. Blongkot Abdoerrakhman bin Kangdjeng Sjekh Lanna + Hj. Tarjoemi Abdoerrakhman.

H. Blongkot Abdoerrakhman alamat Jalan Pelita 2 Sarwodadi Kasowetan RT.011 RW.002 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52363 Jawa Tengah, punika asring katambuh kanthi celukan (tela’ah, cawelan) Bapak Kadji. Taksih sugengipun tangga teparo dalah kawulawarga nyelukipun amung Bapak Kadji kemawon, ingkang gadhah garwa tansah kinasih Hj. Tarjoemi, peputra sekawan; (1) H.Sarkan Singodikromo, (2) Sarmah, (3) Tarmad (Tjitro Atmdjo) lan (4) Cariban.

Jisim Bapak Kadji sumareh wonten sakupenging Candi Mbah Kramat Jati Kasowetan, sisih wetan cungkup petilasan Kangdjeng Sjekh Maoelanna Maghribi V. Sesarengan kalih ingkang garwa kinasih Hj. Tarjoemi dalah kang putra H. Sarkam Singodikromo (Mbah Singo):

1. H. Sarkam Singodikromo (Mbah Singo) + Darsijah (Simbong) (Comal)

a. R. Nasdan Djojoprayitno (Pulogadung Jakarta)

(1) (+) RA. Soemilah (Solo/Demak/Semarang?)
(a) ........
(2) (+) Rr. Wahyuning (Semarang)
(a) Kadaryati Yudininggar + Cuk Sunarso, BSc. (Semarang) = Kusudatmojo/Kuncung, Kusudatmoko, Galuh, .....
(b) Bambang Suhendro + Tini (Jakarta) = Eska, Rita.
(c) Kuswardono
(d) Priyo Atmojo
(e) Yusnaeni Indriya + Bambang Edi Sujoko, SH. (Semarang) = Indriana Kusumaningrum, SPi.MPi., Edhi......
(f) Dyah Nurhayati (Menung) + Suharto (Semarang)
(g) Yulianto (Totok) (Semarang)
(3) (+) Hardiyah (Semarang)
(a) a. Heri Budiono (Semarang)
(4) (+) Sugiharti (Jakarta)
(a) Sugiyo Prayitno + Emi = Egi, Gandhes
(b) Dyah Setyowati + Ganang + Budi Prasetyo Umbaran
Dyah Setyowati + Nn = Ade
(c) Dewi Kurniasih + Nn = Dimas Wahyu Pratama
(d) Totok Sugiharto + Eni = Adit
(5) Tini (Jl.Pramuka Jakarta)
      (a) R. Parianom
(6) Emi Suaemi (Tangerang)
      (a) R. Tirta Raksa Kusuma (Toto)
      (b) R. Dwi Jayanti + Wawan Kurniawan


b. Sasi (Suwarsih) + Tarso (Ancol Jakarta)
(1) Ruyati + Mad Komar (Comal)
-  Anak = Soleha + Kasihan, Maryati + Pendi, Rohadi, Jariyah, Siswati, Tuti, Sri.
-  Cucu = Evan, Kus, Rani, Kiki, Angga ......

c. Darsiyem

d. Tayu + Subari (Sumatera) = Muayah, Mujinah, Laki2.

(Alamat mboten jelas kesah sampun setengah abad-an (50 th-an). kawiwit kesah dateng Sumatera taksih jaman tamukipun DI lan TII. Pawongan sintena ingkang mangertosi papan dunungipun sederek Tayu + Subari, dalah putra wayahipun, tuwin ahli waris saking Tayu + Subari, kawula aturi paring pawarta dhumateng redaksi punika. Kawulawarga taksih ngrantu pawartinipun)


(Alamat tidak jelas. Posisi sekarang, keluarga yang di Comal tidak ada yang tahu, sebab Tayu + Subari meninggalkan Desa Sarwodadi Kasowetan sekitar tahun 1951.an. sebelum pecahnya DI dan TII. Kabar terakhir di tahun 1965 Tayu masih kontak surat dengan keluarga Comal bahkan sering kirim paket untuk plunannya (ke anaknya Kartini). Diketahui berita terakhir berada di BALARAJA, RAJABASA, SUMATERA. Tepatnya tidak diketahui.

Akan tetapi kami yakin, baik anak, cucu, atau ahli waris dari Tayu binti Singodikromo + Subari masih ada. Jika mengetahui atau membaca tulisan ini segera saja menghubungi penulis (cicit kemenakan buyut Tayu).

Sebagai tambahan informasi, pada tahun 1965-an anak-anak dari Tayu binti Singodikromo pisah mencari kehidupan sendiri-sendiri. Dan mulai saat itulah hilang berita sampai sekarang dan putus komunikasi. Setengah abad lebih (62 tahun) Tayu binti Singodikromo meninggalkan desa dan kini tidak ada kabar beritanya.

Sebagai ciri-ciri, saat itu anak-anak Tayu binti Singodikromo, Muayah dan Mujinah berambut ngriwil/bergelombang kerap dengan kulit kuning bersih. Dahulu sewaktu di Sarwodadi Kasowetan rumahnya ada di Prapatan Dukuh Kasowetan (utara jalan timur jalan, tepatnya pojokan). Ada informasi tambahan: menantu dari Tayu binti Singodikromo ada yang menjadi dokter. Anak dari Tayu ada yang menjadi angkatan. Hanya tambahan informasi ini saja yang bisa disampaikan (kumpulkasn). Untuk alamat yang bisa disampaikan di sini cuma Balaraja, Rajabasa, Sumatera.

Bila ada pembaca yang mengetahui keberadaannya, hidup dan/atau meninggal dunia, atau mengetahui ahli warisnya dari Tayu binti Singodikromo + Subari, tolong di informasikan ke alamat ini. Informasi dan kedatangan Tayu binti Singodikromo + Subari dan/atau ahli warisnya tetap kami tunggu:
di Sarwodadi: Jalan Pelita 2 Sarwodadi Kasowetan RT.011 RW.002 No.120 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52353 Jawa Tengah atau langsung ke email: lukmanprabowo69@yahoo.co.id


e. Kartini (Sutini) + Djuri (Comal)
(1) Hj. Tayumi Nurjanah + Harits Suwaryo (Suto) (Jalan Pelita 2 Sarwodadi Kasowetan RT.011 RW.002 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52353 Jawa Tengah)
(a) Kustajianto
(b) Abdul Lukman Prabowo + Noimah WR, SPd.I.
(c) Slamet Supriyanto, SSi. + Tati Setyowati (Bogor) = Fina, Askah, Fakih.
(d) Krismiyanti, AMdKom.AMdPd.

f. Darsono

g. HR. Nasrikin/Muhammad Nawen/Kancil + Marsinem (Pontianak)
(1) Sri Naryati, SE. + Tri Riyadi
(2) Drs. Edi Naryanto, MBA. + Syahliati
(3) Endah Muhardi + Nurlaela
(4) Melli Widiastuti + Roni Devi Diyanto, SH.
(5) Hermin Setio Nugroho, ST.
(6) Rita Saptaningrum

h. Sumiyati (Sumiah) + Mardjani (Batan Miroto I Pekunden Nomor 496.P Semarang Barat, Jawa Tengah)
(1) Dra. Dyah Sumaryanti + Nursanto = Diki Markasanjaya, Dikna Novitasari
(2) Sigit Hermoyo + Bekti = Riyan Bagus Pranata, Dimas .......
(3) Drs. Untung Prabowo + Turmeda Laela = Andika Puspita .......
(4) Agung Sri Mulyanto + Nurul Jaemah = Anjas Eko Prasetyo
(5) Sunu Setiawan + Aliyah = Sadewa Agung Samudra
(6) Pertiwi Hestiningrum, AMd. + Musriyanto = Vincent

2. Sarmah + Siyar
          -  Anak = Aryu (Gintung), Astono (Gintung)
          -  Cucu = Suparti, Suharno, Suharto, Hj.Suwarsi (Semarang), Hj.Suharti + Kartono (Gintung) = 
             (Eko, Tati, Tri Hanura, Sus, Bowo), Suharjo (Semarang), Yitno, Warsi. -----

3. Tarmad (Citro Atmodjo) + Tarminah
a. Ir. Sutami (Pemalang/Bogor)
b. -------

4. Cariban + Warem
a. Wasri + Murtono
Wasri + Mijan = Goler Tarjono, Damuah, Triwaluyo (Tiwul)
b. Kartiyah
c. Susah + Tulus = Ratno, Wanto Sadul
d. Tarmini








Kangdjeng Sjekh Lanna V
Kangdjeng Sjekh Lanna VI
Kangdjeng Sjekh Lanna VII

(bit kawit)

Sjekh Lanna

  1. H. Blongkot Andoerrakhman (Bapak Kadji) + Hj. Tarjoemi
  2. Taniman (x)
  3. Tarwidjan + Darsijem
  1. Calam
  2. Wanisem

  • Warsinah + Ta’id
  1. Durmat = Maryoto, Surati, Endang
  2. Yitno (Gintung)
  3. Soyo
  4. Carub Aryanto + Harniti (Iti) = Puji Astuti, Asih, Rini, Noni, Seno, Welas

  • Gosih + Sarmad
  1. Warbi + Tarno = Juriyah + Tahuri, Sumirah, Jatneng, Yitno, Suwiryo, Wunipah
  2. Dirin
  3. Caumi
  4. Wasri

  • Kasman + Dewi
  1. Penjol
  2. Tasumi
  3. Tanwi
  4. Siti

  • Taruni + Taban
  1. Sunarto + Sumiati (Cobra Jaya) = Toni dsb
  2. Suwarno + Yati = Eni Setyani (Tya), Dina
  3. Warnap
  4. Tarsini

  1. Sirat/Sirak
  2. Kesut/Tarmi
  • Sugi
  • Sicar
  • Trinil dsb

  1. Sumi + Arjo
  2. Danu (Susukan)
  3. Sarmadji (Kaso lor) = Ruyati
  4. Madri

Nyuwun gunging pangaksami, sedaya kritik dalah saran kanthi sanget kawula ranthi rina wengi kagem njangkepi data punika. Kawula tengga saestu. Nuwun.

Abdul Lukman Prabowo
Jalan Pelita 2 Sarwodadi Kasowetan RT.011 RW.002 No.120
Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52363 Jawa Tengah.
email: lukmanprabowo69@yahoo.co.id

Padepokan Alif Ba,aluni



diasuh oleh Abu Hasan Sutrisno alamat Dukuh Bengkelung, Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang 52363 Jawa Tengah. 
Info lengkap klik google: PANDU: Abu Hasan Sutrisno. (look)

Jumat, 12 Juli 2013

Kandang dan Ternak Ayam, Desa Sarwodadi, Hangus Terbakar



Pemalang, hariandialog.com/Dialog – 8000 bibitan ayam potong (broiler) ludes dilalap jago merah (4/7) pukul 16.00 WIB milik Darno (47) Sekdes (Carik) Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kerugian sementara ditaksir 400 juta lebih.
Bermula, Warsito penjaga kandang sekaligus karyawan perawat ternak ayam potong tersebut lagi menyalakan kompor gas untuk pemanasan bibitan yang baru datang dua hari lalu. Tiba-tiba kandang yang berdiri di atas lahan sawah seluas 1/4 bahu roboh oleh hempasan angin. Api dari 4 tabung gas yang dinyalakan itu pun secepat kilat menyambar kandang yang terbuat dari kayu dan bambu. Disinyalir kondisi kandang usianya sudah tua dan agak miring atau doyong.
“Padahal sudah diperbaiki jauh-jauh hari sebelum datang bibitan ayam tersebut. Mungkin ini yang namanya musibah tidak pernah diminta dan tidak bisa ditolak,” ujar Warsito.
Dalam peristiwa tersebut tidak memakan korban jiwa. Akan tetapi kandang seisinya hangus rata tanah termasuk bibitan ayam yang masih berusia dua hari.
Satu jam kemudian satu unit pemadam kebakaran (Fire Recue) DPU Kabupaten Pemalang baru datang. Dan hanya menemukan puing-puing yang sudah menjadi arang. Tidak ada yang bisa diselamatkan oleh fire recue yang selalu terlambat datang dalam mengatasi kebakaran, ujar pengunjung yang menyaksikan kebakaran.
Darno, pemilik ternak belum bisa dimintai konfirmasi karena kondisi tegang melihat lidah api menjilat-jilat. Mengenai tanaman padi yang sudah berbuah (mratak) sebelah kiri kanan seluas satu hektar lebih yang kena imbas ikut gosong dan kering, pemiliknya tetap minta ganti rugi walaupun itu bentuknya musibah.
Dari sumber lain mengatakan yang tidak mau disebutkan namanya, usaha ternak yang dijalani ini bersifat rekanan dengan pengusaha pembibitan, pakan, dan suplyer obat-obatan. Setidaknya ada kompensasi ganti rugi. (kukuh/look)

Senin, 17 Juni 2013

Oknum Guru PNS Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Siswinya


Pemalang, Dialog - Oknum guru PNS kelas lima Sekolah Dasar Negeri Sarwodadi 03 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang berinitial AR (48) belum lama ini diduga telah melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap siswinya nama DW yang kelahiran 4 Mei 2002. DW adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan suami istri War dan Dar.
Peristiwa ini terjadi sebelum pelaksanaan Ujian Sekolah (US) SD di dalam kelas, masih dalam proses belajar mengajar berlangsung. Kejadian ini, diutarakan oleh DW yang didampingi oleh orang tuanya di rumahnya, bukan cuma sekali ini AR melakukan tindakan itu.
 “Bahkan korbannya bukan cuma saya, temen saya RA juga mengalami hal yang sama tetapi tidak berani melaporkan ke kepala sekolah. AR melakukan tindakan seperti ini sering pak, bukan cuma sekali saja,” ujarnya penuh sedu dengan wajah polos pada Dialog.
Tindakan AR benar-benar telah mencoreng dunia pendidikan. AR berani memeluk DW dari belakang dengan kedua tangan masuk lewat bawah ketiak DW dan memegang buah dada si bocah ingusan. Dan AR, kata DW, pernah mencoba menyilakkan rok gadis manis ini disaat DW duduk sediri. DW pun memberontak menolak dan gagal menyilakkan rok anak yang masih duduk di sekolah dasar itu.
“Saya pingin AR dipecat saja pak, sebab kalau cuma dimutasi perbuatan itu akan diulang-ulang lagi. Korban berikutnya pun berjatuhan,” lanjut DW kepada Dialog dengan mata berkaca-kaca hampir mengeluarkan air mata. Penuturan yang senada pun telah diadukan dan diceritakan ke bapak aparat penegak hukum Polsek Comal. DW juga siap bercerita apa adanya yang terjadi, tidak direkayasa oleh pihak manapun, jika sewaktu-waktu ada panggilan dari kepolisian tentang peristiwa yang menimpa dirinya.
DW adalah gadis mungil berparas cantik rambut bergelombang ini duduk di kelas lima di kursi paling belakang dari lima belas siswa siswa di kelasnya. Saat AR melakukan aksinya, apabila teman sekolah DW melihat si AR pura-pura aktion mengajari matematika pada DW. AR sendiri adalah guru kelas DW dan guru matematika di kelas lima tersebut.
Ulah AR ini pun sudah dilaporkan ke Kepsek Sekolah Dasar Negeri Sarwodadi 03 - Budianto, SPd. Kepala Desa Sarwodadi – Sugiyono, juga didampingi LSM, dilanjut ke Polsek Comal dan pemberitahuan ke UPPK (Unit Pengelola Pendidikan Kecamatan) Comal – Harsono, SPd. dan Pengawas Sekolah (PS) TK-SD. Kini pihak Polsek Comal lagi memediasi korban (keluarga korban) dengan pelaku AR. AR pun sudah dimintai keterangan komplit oleh pihak berwajib atas laporan di atas, tinggal nunggu hasil akhir mediasi tersebut.
Oknum guru AR ketika ditemui Tim Dialog didampingi Kepsek mengatakan, saya tidak berbuat yang tidak-tidak. Saya juga tidak terima jika dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak didik saya. Saya menyayangi semua anak didik saya seperti anak saya sendiri. Tidak mungkin saya melakukan perbuatan yang sehina itu.
Apapun ending ceritanya, kini, lagi dunia pendidikan telah tercoreng citranya hanya karena ulah segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Sang maestro: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani, pun akan terhenyak cuma bisa elus-elus dada saja. Dr Soetomo akan menangis meneteskan air mata di depan Sang Khalik sendiri sambil tafakur melihat bathara guru yang patut digugu dan ditiru berulah aneh-aneh dan nyerempet tindak abnormal. (soes, ko2, look)

Jumat, 14 Juni 2013

PAB Putra Desa Dusun Satu Sarwodadi


Pemalang, Dialog – Pembangunan Pengadaan Air Bersih (PAB) di Dusun Satu Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang hampir selesai dan didanani oleh swadaya Kelompok Putra Desa Dusun Satu sebesar tiga belas juta rupiah, digarap oleh tukang dan tenaga kerja setempat. Ini murni dana swadaya tidak ada campur tangan bantuan dana dari pemerintah. Tetapi jika ada dana bantuan dari Pemkab turun untuk kami, ya tetap kami terima dan akan kami pergunakan sebagaimana mestinya, ujar Cunaedi selaku Ketua Kelompok Putra Desa Dusun Satu.
Di dusun ini kebutuhan air bersih sudah sangat mendesak dan perlu adanya Pembangunan PAB (Pengadaan Air Bersih). Hal seperti ini sangat terasa sekali jika musim kemarau tiba. PAB yang di bor dengan kedalaman 100 meter diharapkan pada musim kemarau panjang nanti Insya Allah tidak akan kekurangan air. Dan cukup untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan dusun satu dan sekitarnya.
Setelah PAB ini selesai kelompok Putra Desa Dusun Satu akan membangun juga dua Gapura Gang, dengan anggaran dua belas juta dari swadaya dusun. Jadi total beaya mencapai dua puluh lima juta rupiah. Kami ingin membangun desa sebisa kami, semampu kami, lanjutnya.
Kekreatifan dan inisiatif warga dan putra desa khususnya dusun satu yang diketuai oleh Cunaedi, sekretaris oleh Susilo dan penggali dana Purwoto ST, kami selaku kepala desa sangat bangga ada warga kami yang peduli untuk membangun desa. Ini dapat menjadi percontohan bagi dusun yang lain yang ada di Desa Sarwodadi. Berkaryalah untuk desa jangan mengharapkan sesuatu imbalan dari dari desa, ujar Kepala Desa Sarwodadi Sugiyono di kantornya.
Disinyalir sumber dana Pengadaan Air Bersih tersebut berasal dari sponsor tunggal yang tidak mau disebut namanya dan dari mana asalnya. Yang jelas warga Dusun Satu  desa sarwodadi sangat terbantu oleh dibangunnya Pengadaan Air Bersih Swadaya Putra Desa Dusun Satu. Warga sama sekali tidak dipungut iuran sepersen pun untuk proyek ini dan dua gerobak pengangkut air pun sudah dipesan, tambah Susilo kepada Dialog (9/5) sebagai pelaksana proyek saat memantau pembangunan PAB. (kukuh)

Noimah, SPd.I.: Wanita Wani Nata



Noimah L. Prabowo, SPd.I.


Peringatan Kartini Th 2013:

Wanita Wani Nata


Pemalang, Dialog.
Memang, barat selalu unggul dalam tekhnologi dan banyak kesuksesan yang diperolehnya. Kita sendiri banyak merasakan dampak dari semua itu. Dan timur selalu kalah dalam hal tersebut,” ujar Noimah L Prabowo, SPd.I. guru Agama MI NU Jatirejo, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, di sela-sela kesibukan mengajar.
Lain halnya timur selalu menjunjung tinggi nilai harkat dan martabat, sopan dan santun. Serta hati-hati menjaga perasaan orang yang ditimbulkannya. Kepribadiannya dan jiwa (orang timur) semakin matang dan moralnya pun tidak sebobrok negeri barat dari sudut pandang tertentu secara umum, lanjut pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan juga mantan atlet Pencak Silat Porda di tahun sembilan puluhan.
Itu semua terjadi secara naluri walau adanya arus kesejagadan (globalisasi) dan dimulainya abad pasifik kita selalu eksis, karena kebutuhan paralel guna menghargai tradisi, norma-norma dan nilai-nilai
dalam masyarakat. Semua berakar pada kepercayaan dan kebijakkan yang tumbuh turun-temurun. Ilmu tanpa moral - akan sia-sia, dan sebaliknya moral tanpa ilmu - tidak akan bermanfaat,” imbuhnya.
Maka seorang perempuan tidak cukup modal moral, akan tetapi harus dilengkapi dengan ilmu. Ilmu beladiri pencak silat, sebagai budaya warisan luhur yang adiluhung dari bangsa kita sangat tepat. Apalagi, perempuan kalau ditinjau dari ilmu etimologi adalah Pe-Empu-An dengan sisipan “R” itu mengandung makna empu dari segalanya. Yakni mampu mencetak negeri menjadi hancur dan atau sebaliknya.
Seperti dikisahkan oleh perempuan “Ken Dedes” beliau telah mencetak raja-raja Nusantara yang gung binantoro. Boleh dikata raja-raja negeri ini adalah turunan dan cetakan dari rahim seorang perempuan yang bernama “Ken Dedes” tersebut, oleh karena mendapatkan rakhmat dan hidayah dari Sang Pencipta alam semesta ini, sambung Noimah ketika Dialog mengejar makna hari Kartini.
Dan apabila ditilik dari asal kata Wanita bukan berarti Wani Ditata seperti yang lazim kita dengar, tapi yang benar adalah Wani Nata artinya harus berani mengatur jangan selalu diatur asal tidak melupakan kodratnya sebagai seorang wanita. Kalau orang Jawa bilang “Ora Elok” atau tidak patut dilakukan oleh seorang wanita jika meninggalkan kodratnya.
Lalu, bagaimanakah dengan ilmu beladiri pencak silat relevansinya dengan perempuan? Jawabnya: sah-sah saja, dan tetap elok. Sebab seorang pendekar tidak harus kekar gagah pideksa dan selalu menang dalam pertarungan, digdaya sekti mandraguna tanpa tanding, dan tidak pernah mengalami suatu kekalahan, lanjut Noimah yang juga pengurus Nahdatul Ulama (NU) Cabang Pemalang dengan semangat.
Lanjutnya, Pendekar sejati tidak mengabdi pada kemenangan akan tetapi mengabdi pada kebenaran. Meskipun tubuh kita hancur itu tetap pendekar sejati. Disinilah terdapat titik temu, yang mengesahkan seorang perempuan berhak menyandang gelar pendekar.
Lihat saja salah satu istri dari seorang pejuang Fatahilah dari Batavia, istri beliau adalah seorang “Srikandi Perang” dan lincah berkuda di medan perang melawan penjajah pada jamannya. Kemudian ada lagi wanita Nyai Banten, Nyai Lamped, dan lain sebagainya.
Perempuan baru menjadi perempuan sepenuhnya apabila dia sudah bisa menempatkan dirinya sendiri antara keseimbangan dan keselarasan kodratnya dengan lelaki. Hidup tidak bisa sendiri-sendiri tetapi ada pasangannya. Keseimbangan dan keselarasan itu sendiri ditentukan oleh perilaku atau perbuatan yang berdasarkan pada akal dan budi.
Di hari yang bersejarah ini, dalam rangka memperingati hari lahirnya Ibu Kita RA. Kartini mestinya kita wajib melestarikan dan melanjutkan perjuangan serta pola pemikirannya. Kartini telah membuka lebar wawasan dunia tentang wanita,” ditutupnya pembicaraan itu dengan senyum ramah. (look)