Tampilkan postingan dengan label Blendung Ulujami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blendung Ulujami. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2013

Suyik Siap Sumpah Pocong


: Suyik Telan Ludah Sendiri

Pilkades Blendung Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tahun lalu sampai sekarang masih menyisahkan polemik berkepanjangan, bahkan kisruh sampai ke ranah hukum dan PN/PTUN pun belum memutuskan vonis akhir.

Pemalang, hariandialog.com/Dialog -  Malam Jumat (29/8) kemarin Suyik yang mantan Kepala Desa Blendung Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menyatakan secara tertulis siap menjalani sumpah pocong di Balai Desa terkait kasus penggelembungan kartu suara Pilkades tahun lalu, yang sampai sekarang kasusnya belum selesai.
“Kami Suyik sekeluarga dan panitia akan melakukan sumpah pocong,” ujar Suyik dalam pernyataannya.
Namun malam yang telah ditentukan oleh Suyik sendiri, tidak ada paksaan dari pihak manapun, ia tidak menampakan ujung hidungnya. Beberapa wartawan elektronik maupun cetak menuai kekecewaan karena menunggu lama tidak jadi dilaksanakan sumpah pocong. Kekecewaan ini pun dirasakan oleh beberapa warga Desa Blendung, “Suyik pengecut! Suyik stres!” ujarnya lalu pergi kecewa dari kerumunan saat ditanya oleh Dialog.
Tidak cuma beberapa jurnalis, satuan Dalmas dari Pemalang (satu peleton) yang saat itu hadir pun bingung melihat ulah Suyik. Keamanan dari Polsek Ulujami juga sudah siaga penuh di tempat untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Sumpah pocong tersebut sedianya akan dilaksanakan Malam Jumat (29/8) pukul 19.30. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa Suyik tidak melakukan kecurangan dalam pilkades tersebut. “Semoga laknat Allah dijatuhkan kepada kami, apabila kami melakukan hal (kecurangan) tersebut,” ujar Suyik sebelumnya.
Silahkan warga menyaksikan ritual tersebut. Semoga hal ini, semua warga akan hidup damai dan berdampingan tidak membedakan kelompok yang satu dengan lainnya, tandasnya. Namun detik-detik yang dijanjikan hanya pepesan kosong belaka, ibarat Suyik telah menelan ludah sendiri. (look)

Selasa, 13 Agustus 2013

Blendung Kembali Hangat

Balai Desa Blendung yang disegel dan dicorat-coret oleh warga saat unjuk rasa kemarin Senin (12/8). (foto: dialog/look)

Pemalang, hariandialog.com/Dialog – Puluhan warga Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang didominasi ibu-ibu berdemo unjukrasa  ke balai desa dan ke pintu masuk wisata pantai Blendung kemarin Senin (12/8) menuntut sebuah keterbukaan, kejujuran dan  keadilan yang berkapasitas hukum.
Aksi unjuk rasa yang berjalan singkat ini dipicu oleh karena Kepala Desa Rumyati yang tidak kondusif segala birokrasi pemerintahan desa ditangani oleh suaminya Rum. Padahal Suyik (suami Rumyati) di Desa blendung kedudukannya hanya rakyat jelata biasa, bukan pamong praja atau aparat desa.
Selain itu, Suyik terlalu banyak ikut campur dan intimidasi terhadap masyarakat Desa Blendung. Akhirakhir ini pun diduga telah melakukan berbagai tindakan teror ke warga, ujar salah satu warga yang tidak mau disebut namanya saat itu.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut balai desa sempat disegel oleh warga, dan berbagai coratcoret peringatan dan hujatan kepada yang bersangkutan suami istri Suyik dan Rumyati. Diantara tulisan tersebut berbunyi; BUKA MODAR (jika balai desa tersebut dibuka maka akan terjadi bencana bahkan nyawa bisa melayang, red).
Pemicu lain yakni adanya ijin cuti ke luar kota dari Rumyati pada hari tersebut, hari kerja pertama usai idul fitri. Setelah dicrosscheck ijin tersebut ternyata tidak ada, “Katanya ijin ke luar kota tapi kok kenyataannya ada di rumah saja. Usai demo Rumyati juga menengok balai desa. Itu artinya Rumyati mulai mencoba berbohong kepada warga,” lanjut warga tersebut.
Kemarahan warga yang memuncak ini dipicu oleh karena dilantiknya Rumyati oleh Bupati Pemalang H Junaedi SH MH pada (19/7) di Pendopo Kabupaten disinyalir karena kasus cacat hukum pilkades Desa Blendung belum selesai, masih dalam koridor ranah hukum.
“Kenapa Bupati keburu-buru melantik Rumyati. Padahal PN Pemalang dan PTUN Semarang belum ketuk palu vonis putusan. Hal inilah yang membakar api emosi pengunjuk rasa,” tegasnya kemudian.
Terpisah, Kapolsek Ulujami AKP Giyatno melalui Waluyo membenarkan adanya demo yang didominasi oleh ibuibu tersebut, akan tetapi tidak terjadi tindakan anarkis atau perusakan. Hanya corat coret dan penyegelan di balai desa dengan bambu yang di palangpalang rapat pintu lalu dipaku, jelasnya kepada Dialog. Sampai berita ini diturunkan Rumyati selaku kepala desa belum bisa dikonfirmasi. (look)

Senin, 29 Juli 2013

Konflik Ijin Tempat Show Reage di Blendung

Pemalang, hariandialog.com/DialogShow reage ysng akan diselenggarakan oleh Event Organizer (EO) Bledeg Ngampar pada H+3 (12/7) hari raya besuk di Pantai Wisata Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, mengalami konflik perijinan.
Pada prinsipnya Kades setuju, namun agar diralat tanggal pelaksanaan H+15. Hal tersebut karena pertimbangan keamanan dan lain-lain,” ujar Rumyati Kades Blendung yang tidak bersedia ditemui melalui Suyik suaminya merangkap sebagai juru bicara di Kantor Balai Desa kepada Dialog.
Konser reage yang sudah digodog matang dan disetujui secara lesan oleh aparat Polsek dan Polres ini ternyata batal diselenggarakan karena perijinan tempat dari desa belum dipegang oleh EO Bledeg Ngampar.
Terpisah, Ketua EO Bledeg Ngampar Zaenal Arifin mengutarakan, kami adalah putra daerah Pemalang. Apa salahnya jika saya dan teman-teman punya keniatan baik ingin mengangkat sebuah aset daerah, seperti pariwisata desa. Untuk pelaksanaan konser reage nanti, selain mengangkat dan mempromosikan aset wisata bahari yang ada di Blendung juga berfungsi sebagai ajang silaturahmi warga mudik yang letih sekian lama merantau di kota. Setahun sekali berkumpul dan mencari hiburan sah-sah saja.
Dalam kesempatan tersebut dapat digunakan sebagai ajang silaturrahmi sambil berwisata. Jika dilaksanakan pada H+15 pemudik sudah pada balik ke Jakarta. Misi halal bi halal dan silaturahmi tidak berfungsi lagi,” lanjut Zaenal.
Ini sangat tepat dan ideal untuk H+3 hari raya. Jadi pemberian ijin H+15 oleh Suyik yang sekaligus suami Rumyati hanyalah instrik saja. Alasan keamanan tidak mendasar sebab pihak keamanan dari Polres saat ditemui di kantornya siap membantu kegiatan masyarakat dan proaktif, tegas Zaenal.

Bupati Pemalang H Junaedi SH MM ketiga dihubungi via hand phone (24/7), sebab saat itu masih di Jakarta, memaparkan, “Khusus Desa Blendung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang memang situasinya belum kondusif karena permasalahan Pilkades yang lalu belum bisa diterima oleh masyarakat Blendung. Dan yang lalu sempat terjadi kekisruhan sampai ke ranah hukum dalam penyelesaiannya.” (kukuh/look) 

Jumat, 14 Juni 2013

Pantai Blendung Mengenaskan


Pemalang. Dialog - Konon, dahulu kala pantai Blendung di wilayah Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang airnya dapat mempererat tali kasih calon pengantin dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Cerita dari mulut ke mulut ini pun sampai kini masih berkembang bagai jamur di musim semi. Dari pengaruh cerita legenda itulah dapat dilihat pada setiap hari Jumat Kliwon dan malamnya banyak pasangan muda-mudi yang datang. Bahkan penghasilan bersih dari penjualan tiket masuk pantai di hari Jumat Kliwon kemarin (22/3), mencapai 20 jutaan rupiah, dari penuturan salah satu tokoh masyarakat Desa Blendung. Dan hari-hari biasa, senin sampai minggu mencapai puluhan juta lebih, ujar salah satu warga yang tidek bersedia disebutkan namanya. Sangat fantastis. Tetapi sayang pengelolaannya dan pemberdayaan pantai sangat amburadul dan nyaris terlantar mengenaskan. Bahkan terkesan dibiarkan terlantar, kotor, kumuh, mengenaskan, tidak ada sentuhan-sentuhan tangan yang peduli dengan lingkungan.

Padahal pada tahun 2008 Dinas Perhubungan Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang telah melakukan peningkatan sarana dan prasarana pariwisata di obyek wisata Pantai Blendung. Kondisi jalan yang mendekati bibir Pantai Blendung dibuat cukup mulus, dengan kanan kiri jalan diapit tambak-tambak milik masyarakat sekitar, dan juga dibuat jembatan kecil yang menarik dengan dominasi warna biru muda. Sebagai semacam penanda memasuki kawasan obyek wisata Pantai Blendung terdapat gapura sebagai pintu masuk menuju pantai. Tapi sayang tidak terawat dengan baik.
Tempat berteduh dan mainan anak-anak yang tenggelam oleh robnya (pasang) air laut dan ditumbuhi rumput seperti rawa-rawa malah menjadi sebuah tontonan dan tetap dibiarkan begitu saja. Pengelola pantai (front masyarakat) saat ini masih mengharapkan adanya bantuan dari pihak atau instansi terkait untuk membangun obyek wisata Pantai Blendung agar menjadi asri, nyaman dan indah dipandang.
Masyarakat juga berharap Pantai Blendung dapat menjadi objek wisata yang mampu dijual seperti tempat-tempat lain di Pemalang. Hal itu dibuktikan dengan kesediaan masyarakat merelakan sebagian tanah hak milik pribadi mereka untuk pelebaran jalan menuju ke pantai. Bagi masyarakat pemilik tambak tidak akan meluaskan tambaknya. Sebab, daerah itu merupakan sabuk hijau.
Kekuatan magic pantai, hingga mampu menyerap ribuan pengunjung pada hari-hari tertentu, tersebut juga dibenarkan oleh Juru kunci pantai Mbah Suwaryo melalui istrinya yang punya warung makan di Pantai Blendung, bahwa legenda itu masih diyakini oleh masyarakat setempat dan sekitarnya. Tidak jelas asal muasal cerita legenda tersebut, namun konon pantai itu mampu memberikan berkah dan barokah. Pengunjung yang berkepentingan dalam soal spritual biasanya akan diantar oleh Mbah Suwaryo ke sumur yang dikeramatkan yang letaknya di bibir pantai.
Sumur itu disebut-sebut sangat misterius, karena lokasinya dapat berpindah-pindah di areal seputar pantai, airnya tawar walau berbatasan dengan pantai. Biasanya sumur itu muncul dalam radius 100 meter dari bibir pantai di tanah yang ditumbuhi rerumputan. Sumur itu, konon hanya dapat ditemukan oleh yang berjodoh (yang beruntung) saja, sehingga bagi pengunjung yang tidak menemukan sumur misterius itu sering menggunaan air pantai sebagai penggantinya.
Cerita lain yang terkait dengan pantai Blendung adalah keberadaan Mbah Tumpuk sebagai penunggu ghoib Pantai Blendung. Konon ia tokoh gaib berbentuk ular besar yang melingkar-lingkar dan tampak menumpuk maka dijuluki Mbah Tumpuk. Cerita-cerita itulah yang berpengaruh terhadap daya tarik obyek wisata yang kini dikelola oleh masyarakat Blendung itu. Menurut salah seorang supranatural yang tidak mau disebutkan namanya, “Sebenarnya sumur ghoib yang dimaksud berada sekitar 25 meter ke laut (lurus dari menara pantai ke utara) dengan diameter 1 meter, di atasnya ada sebilah keris berdiri melayang di jaga oleh dua ekor ular besar di atas bibir sumur, melingkar. Airnya tawar walau berada di tengah air laut. Nah air tersebutlah yang mempunyai khasiat luar biasa untuk pengobatan dan lain-lain jika bisa mengambilnya. Hal ini berhubungan erat dengan keberuntungan,” ujarnya sambil konsentrasi menunjuk lokasi.
Dengan segala keterbatasan serta kekurangan yang dimiliki, Pantai Blendung saat ini tetap mampu menjadi salah satu tempat alternatif bagi masyarakat untuk sedikit melupakan rutinitas sehari-hari. Bukan merupakan hal mustahil kelak pada masa yang akan datang, obyek wisata Pantai Blendung mampu menjadi seperti obyek wisata yang melekat di hati masyarakat Kabupaten Pemalang dan sekitarnya jika ditangani lebih profesional, dikelola dengan lebih baik lagi, dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang lainnya serta dijaga, dirawat, dan dikembangkan lebih modern.
Sebenarnya Pantai Blendung merupakan salah satu obyek wisata bahari andalan Kabupaten Pemalang, namun masih dikelola secara konvensional, di mana orang-orang yang menjadi petugas adalah kepanjang tangan kepala desa, sehingga tata kelola terkesan tidak profesional dan karcis tanda masuknya pun diduga tidak resmi, menurut penuturan beberapa pengunjung dan ada pula yang telah membayar di pintu masuk tetapi tidak diberi karcis. (loOk)