Tampilkan postingan dengan label Ketapang Ulujami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketapang Ulujami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2014

Nelayan Ketapang Raup 4 Miliar dalam 2 Bulan




Nelayan Ketapang naik Kapal MT dengan kesederhanaannya lagi merapat ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Laut melalui Muara Sipe Ketapang, membawa sebongkah senyum dan hasil tangkapannya di sore hari. (foto: Dialog/look)

Pemalang, hariandialog.com/Dialog – Dua bulan terakhir ini, Januari dan Februari 2014 musim baratan bagi nelayan Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, dan paska musim tersebut merupakan rejeki nomplok dan dinanti-nanti.
“Bulan tersebut adalah puncaknya musim panen ikan laut,” ungkap Rosidi SPT, Kepala TPI Ketapang melalui Juru Adm Umumnya.
Oleh karena pada musim baratan ini ikan laut pada keluar sehingga mempermudah dalam penangkapan, sangat menguntungkan bagi nelayan Desa Ketapang yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada hasil laut.
Nelayan Ketapang yang berjumlah 170-an dengan perahu ala kadar, sebuah Kapal Motor Tempel atau sering disebut Motor MT dengan mesin dompeng ini penghasilan perhari bisa capai Rp.300 juta atau total jendral nelayan Ketapang meraup untung Rp.4 miliar dalam dua bulan.
“Hasil penangkapan didominasi jenis udang cerbung,” lanjutnya.
Ikan yang didapat kebanyakan jenis udang  cerbung, yakni jenis udang putih yang ukurannya besar disamping ikan jenis lain dan harga udang cerbung ini tetap bertahan bagus dibanding jenis lain. Keuntungan yang cukup besar ini bisa menutup kerugian selama nganggur sebulan karena cuaca buruk sehingga ombak capai 3 meter dan di desa keterjang banjir.
“Alhamdulillah bisa menyisihkan untuk ditabung, selain untuk kebutuhan sehari-hari dan nyaur utang selama tidak melaut,” ujar salah satu nelayan yang tidak mau sebut nama saat mengikuti lelang di TPI Laut Desa Ketapang. (look)

Minggu, 01 Desember 2013

Sesaji Raja Surya di Baritan Ketapang, Ulujami


Sesaji yang siap di larung ke laut lepas oleh nelayan dan warga Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. (foto: Dialog/look)

Nelayan dan warga serta masyarakat sekitar sangat kidmat dan atusias menyaksikan larung sesaji pada pesta sedekah laut nelayan TPI/KUD Mino Misoyo Sari Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami.


Marshing band Gita Swara Persada SMP Negeri 1 Ulujami. 


Pemalanghariandialog.com/Dialog  Pesta sedekah (selamatan) laut nelayan TPI/KUD Mino Misoyo Sari, Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah baru-baru ini dilaksanakan dengan ruwatan wayang kulit di siang hari dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh Ki Mangun Yuwono dalang kondang dari Batang dengan lakon Sesaji Raja Surya.
Cerita Sesaji Raja Surya adalah sebuah keangkara murkaan Joko Sasandu (kesatriya asal Ngastina) yang menargetkan 100 kepala raja untuk tumbal kejayaan dan kesaktian dirinya. Kini baru didapat 97 raja untuk persembahan, tersandung oleh kesatriya dari Pandawa yaitu Prabu Werkudara. Perang tanding pun terjadi dan berjalan lama. Akhirnya gugurlahlah Joko Sasandu yang sakti mandraguna oleh Prabu Werkudara atas petunjuk Kaki Semar Badranaya. Tumbal 100 kepala raja pun berhasil dicegah oleh kebenaran dan niat suci atas nama Yang Maha Kuasa.
Ini sangat relevan dengan acara sedekah laut TPI/KUD Mino Misoyo Sari yakni dalam ujud sesaji yang dibuat dikandung maksud, sebuah rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rejeki tak ternilai jumlahnya dan tidak bakal habis sampai cicit canggah wareng melalui hamparan kekayaan di samudra luas.
Selamatan yang dilaksanakan secara rutin tiab bulan Suro ini, diharapkan nelayan selalu diberi keselamatan, berkah dan barokah dalam mengais rejeki di tengah lautan. “Ini murni swadaya nelayan,” ujar ketua panitia Kardiman. Biaya yang dikumpulkan mencapai 60 juta.
Selain wayangan, sebelumnya juga diadakan Pengajian Umum oleh Kyai Sahroji, lomba perahu dayung nelayan, naik pucang (pohon jambe), dan malam hari terakhir dihibur orkes Wiranada Batang. Untuk menyemarakan larungan didatangkan marchingband Gita Swara Persada SMP Negeri 2 Ulujami asuhan Arif Budi Laksana Abel guru SBK (Seni Budaya dan Ketrampilan).
Terpisah, Kardiman menjelaskan, bahwa nelayan sebenarnya wajib memiliki Kartu Nelayan (semacam KTP khusus nelayan) seperti yang diutarakan Kepala Dinas. Di Ketapang ada 170 perahu motor tempel jenis sopek yang tercatat. Dan 1.882 nelayan yang ada, baru kisaran 150 orang atau sekitar 10% yang memiliki Kartu Nelayan yang dikeluarkan oleh Dinas dan ditanda tangani oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).
“Pembuatan Kartu Nelayan gratis alias tidak dipungut biaya,” ujar Kardiman.
Akan tetapi kesadaran nelayan belum terpikirkan akan pentingnya fungsi dari kartu Nelayan tersebut. Diantaranya bisa mempercepat proses asuransi dan sebagainya apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan semisal kecelakaan laut dan lain-lain.
“Nelayan belum peduli dengan kepemilikan Kartu Nelayan dan menganggapnya tidak penting,” tanda Kardiman, mengenai, perihal 90% nelayan yang belum mengantongi Kartu Nelayan. (look)

Jumat, 11 Oktober 2013

Pantai Muara Sipe Ketapang Ulujami Nan Asri

Wisata Bahari yang Terlupakan

Pantai Muara Sipe Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, merupakan aset wisata bahari Desa Ketapang yang belum dieksploitasi (diperdayakan) secara maksimal. Namun pengunjung sudah banyak apalagi pada hari-hari tertentu.

Tampak foto di bawah ini begitu indah matahari terbenam dan barisan cemara yang begitu asri. (look)






Yang hoby mancing silahkan datang di sore hari sambil menikmati panorama sunset dan perahu melabuh.






Mbah Dion, penjaga Muara Sipe Ketapang (tengah)







Senin, 22 Juli 2013

TPI Ketapang Meningkatkan Program Gizi


Pemalang, hariandialog.com/Dialog – “Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, adalah sebagai tempat untuk kesejahteraan nelayan lokal dan sebagai produsen distribusi gizi bagi masyarakat luas pada umumnya,” ujar Kepala TPI Ketapang Yusran BSc. dikantornya belum lama ini (22/7).
Standar harga di TPI Ketapang sangat terjangkau sehingga daya beli masyarakat tidak mengalami kendala, ikan asin 1.500-2.500/kg, ikan gabus dengan harg 8.000-10.000/kg, ikan sembilang besar 5000-7.500/kg dan ikan cumi 20.000-23.000.
Lanjutnya, eksistensi hasil ikan laut di Ketapang berkisar 4-5 milyar/th, dengan demikian telah ikut mensejahterakan seluruh rakyat melalui pembayaran pajak negara yang sasarannya akan dialokasikan untuk kepentingan rakyat dalam hal pemerataan pembangunan diberbagai aspek wilayah Indonesia.
Masyarakat Ketapang sendiri adat istiadatnya sangat kental. Selalu menghormati budaya leluhurnya yakni kebudayan Jawa seperti penghormatan kepada nenek moyang dalam ujud sebuah ritual sedekah laut. Sedekah laut adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil laut sebagai tempat topangan hidup masyarakat nelayan dan masyarakat umum.
Sakralisme ritual sedekah laut masyarakat Ketapang sudah berjalan lama secara turun temurun. Awalnya mulai kapan tidak ada yang tahu,” ujar Yusran pada Dialog.
Dalam sedekah laut ada istilah sesaji yang artinya sejatine rasa siji yakni rasa cinta kepada Allah SWT, dan ucapan syukur alhamdulillah. Diantaranya diwujudkan dalam sebuah korban kepala kerbau sebagai sesaji, tumpeng, sega golong, jajan pasar, dan aneka makanan lain yang penuh makna filosofi. Kemudian semua itu dilarung ke tengah lautan dan sebagian diperebutkan oleh pengunjung sebagai simbul kemakmuran.
“Selain itu juga disuguhkan acara hiburan berupa wayang kulit, dangdut, sekaten, lomba naik pucang, tarik tambang dan sebagainya sebagai lambang suka-cita masyarakat dalam mensyukuri anugerah dari Sang Kuasa,” tandasnya. (look)

Senin, 17 Juni 2013

Gedung TPI Ketapang Segera Ditingkat


Pemalang, Dialog – Tahun ini tepatnya bulan depan gedung Tempat Pelelangan Ikan Laut (TPI-L) akan segera ditingkat (lantai dua) dengan biaya 500 juta rupiah dengan masa pelaksanaan 180 hari kerja, ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pemalang Muntohir SPi MM melalui Kepala Bidang Dinas Ir Agus Setyabudi MSi kemarin (7/5) pada sosialisasi intensifikasi pembinaan mutu hasil perikanan tahun anggaran 2012 di Ketapang.
Gedung berlantai dua ini pada lantai dasar akan digunakan untuk aktifitas rapat-rapat dan lain-lain, sedangkan di lantai atas untuk perkantoran, admistrasi dan kegiatan yang relevan. Perlengkapan dan prasarana yang diberikan dan dibangun oleh Dinas Pemerintah agar dipelihara dengan sebaik mungkin, lanjutnya.
Dalam sosialisasi intensifikasi pembinaan mutu, Setyabudi menegaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan adalah kualitas air, pemeliharaan ikan yang benar, dan cara-cara pengawetan yang sesuai anjuran pemerintah. Yaitu jangan sekali-sekali memakai bahan kimia berbahaya seperti formalin, borak dan sebagainya. Selain dilarang pemerintah, juga akan merusak nilai kualitas pemasaran pelaku usaha. Mereka hanya mencari keuntungan sesaat akan tetapi beresiko besar bagi konsumen. Hal ini bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.
System pengolahan tidak sesederhana yang dikira jika menginginkan hasil yang maksimal. Dengan pengolahan yang baik dan bermutu ini bisa meningkatkan nilai ekonomis untuk pelaku usaha itu sendiri. Dinas hanya bisa memberi suport pengolahan dan pemasaran. Semua tetap tergantung pada pelaku usaha sendiri yang menentukan sikap akhir.
Dalam kesempatan itu pelaku usaha pertanian dan perikanan Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang mengajukan berbagai usulan kepada Kabid (Kepala Bidang) Setyabudi yakni mohon bantuan fisik sperti alat pengering, penampung es batu, alat pelampung, alkon penguras air, pengeras suara dan lain-lain, yang langsung ditanggapi oleh Dinas dengan baik, menjadi agenda dan akan direalisasikan tahun depan (2014) nanti. (look)

Gedung TPI Ketapang Segera Ditingkat



Pemalang, Dialog – Tahun ini tepatnya bulan depan gedung Tempat Pelelangan Ikan Laut (TPI-L) akan segera ditingkat (lantai dua) dengan biaya 500 juta rupiah dengan masa pelaksanaan 180 hari kerja, ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pemalang Muntohir SPi MM melalui Kepala Bidang Dinas Ir Agus Setyabudi MSi kemarin (7/5) pada sosialisasi intensifikasi pembinaan mutu hasil perikanan tahun anggaran 2012 di Ketapang.
Gedung berlantai dua ini pada lantai dasar akan digunakan untuk aktifitas rapat-rapat dan lain-lain, sedangkan di lantai atas untuk perkantoran, admistrasi dan kegiatan yang relevan. Perlengkapan dan prasarana yang diberikan dan dibangun oleh Dinas Pemerintah agar dipelihara dengan sebaik mungkin, lanjutnya.
Dalam sosialisasi intensifikasi pembinaan mutu, Setyabudi menegaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan adalah kualitas air, pemeliharaan ikan yang benar, dan cara-cara pengawetan yang sesuai anjuran pemerintah. Yaitu jangan sekali-sekali memakai bahan kimia berbahaya seperti formalin, borak dan sebagainya. Selain dilarang pemerintah, juga akan merusak nilai kualitas pemasaran pelaku usaha. Mereka hanya mencari keuntungan sesaat akan tetapi beresiko besar bagi konsumen. Hal ini bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.
System pengolahan tidak sesederhana yang dikira jika menginginkan hasil yang maksimal. Dengan pengolahan yang baik dan bermutu ini bisa meningkatkan nilai ekonomis untuk pelaku usaha itu sendiri. Dinas hanya bisa memberi suport pengolahan dan pemasaran. Semua tetap tergantung pada pelaku usaha sendiri yang menentukan sikap akhir.
Dalam kesempatan itu pelaku usaha pertanian dan perikanan Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang mengajukan berbagai usulan kepada Kabid (Kepala Bidang) Setyabudi yakni mohon bantuan fisik sperti alat pengering, penampung es batu, alat pelampung, alkon penguras air, pengeras suara dan lain-lain, yang langsung ditanggapi oleh Dinas dengan baik, menjadi agenda dan akan direalisasikan tahun depan (2014) nanti. (look)

Jumat, 14 Juni 2013

Sumiyati, Berpolitik Dengan Hati Nurani


Pemalang, Dialog. “Bila menginginkan sesuatu, bertanyalah pada laki-laki. Bila menginginkan sesuatu itu beres, bertanyalah pada perempuan,” kata Margareth Theacher, mantan Perdana Menteri (PM) Inggris, yang baru saja meninggal dunia. Lantaran ingin membuat segala sesuatu itu beres maka Sumiati (46) terjun ke dunia politik, dan kini tercatat sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) untuk DPRD Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Bersama puluhan Caleg lainnya. Senin (22/4), Caleg dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV (Ulujami, Comal, Bodeh) ini didaftarkan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Kabupaten Pemalang Bambang Subekti ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Pemalang di Jalan Ahmad Yani Kabupaten Pemalang, tepat pukul 10.10 WIB sesuai nomor urut Partai Hanurai sebagai peserta Pemilu 2014 yakni 10. Sumiyati didampingi suami tercintanya, Raswan Ahmad Setiawan (46).
Dengan terjun ke dunia politik, Sumiyati bertekad melakukan pembenahan melalui politik yang mengedepankan hati nurani, “Kita jangan hanya menjadi penonton. Sudah saatnya hati nurani bicara. Politik juga membutuhkan sentuhan tangan perempuan, supaya lembut. Untuk itu, dengan mengucap bismillah dan memohon doa restu semua warga Pemalang, saya memberikan diri maju sebagai caleg,” ujar Sumiyati kepada Dialog di Pemalang kemarin.
Apa saja yang hendak dibenahi? Menurut Sumiyati, terutama kebijakkan pemerintah menyangkut pembangunan ekonomi kerakyatan dan infrastruktur jalan. Ia mengaku sangat prihatin melihat kondisi jalan di desa-desa di Wilayah Dapil IV Pemalang, terutama di Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, desa kelahirannya, “Kebijakkan pemerintah dalam pembangunan ekonomi kerakyatan dan insfrastruktur jalan harus dikontrol supaya tepat waktu dan tepat sasaran,” cetus perempuan manis berlatar pengusaha kelahiran 4 September 1967 ini.
Meski pola pikir dan wawasannya menasional, tetapi jiwa Sumiyati tetap merakyat. Sebab itu bila kelak terpilih menjadi anggota DPRD, ia juga bertekad memperjuangkan nasib rakyat kecil seperti rakyat kecil seperti petani dan nelayan dengan memberikan masukan-masukan kepada Pemerintah Kabupaten Pemalang supaya mengeluarkan kebijakkan-kebijakkan pro-rakyat kecil atau wong cilik.
“Misalnya soal ketersediaan pupuk bagi petani dan solar bagi nelayan. Semua itu harus tersedia dengan harga terjangkau,” paparnya.
Sumiyati berprinsip, wakil rakyat tidak boleh korupsi. Caranya, sebelum terjun ke dunia politik, ia harus mapan terlebih dulu secara ekonomi. Begitu duduk di kursi dewan, pikirannya tidak macam-macam, misalnya bagaimana cara mengembalikan modal politik yang ujung-ujungnya melakukan korupsi.
“Yang dipikirkan bagaimana membela dan memperjuangkan aspirasi rakyat, karena urusan perut sudah beres,” tandas ibu dari putri semata wayang Ella Faiqoh ini. (look)