Tampilkan postingan dengan label Warta Brebes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Brebes. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Maret 2014
Selasa, 11 Maret 2014
Angka Kematian Bayi Capai 122 Jiwa di Brebes
Brebes,
hariandialog.com/Dialog – Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Brebes, Jawa Tengah telah berupaya secara gencar usaha untuk Penurunan Angka
Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI).
Langkah-langkah tersebut dilakukan bekerjasama
dengan United States Agency for Internasional Development (USAID) melalui
program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS), Pemkab Brebes
menyelenggarakan pendampingan klinis yang ditujukan kepada para Kepala Pusat
Kesehatan Masyarakat, Direktur Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan mulai dari dokter,
bidan juga perawat, Anggota Pokja Kesehatan serta Kepala Puskesmas se-Kabupaten
Brebes.
Seperti terlihat pada sebuah acara penutupan
workshop pendampingan klinis, baru-baru ini dlaksanakan di Gedung Pertemuan
RSUD Brebes. Dalam kegiatan ini disuguhkan berbagai agenda kegiatan, yakni dari
materi tata kelola pusat kesehatan yang baik dan benar dan diskusi.
Juga sebuah penyusunan rencana tindak lanjut untuk
mengatasi berbagai permasalahan yang muncul. Pendampingan dilakukan oleh Tim
Emas Provinsi Jateng yang dipimpin langsung oleh Ketua Tim Emas Provinsi, dr
Hartanto, M Med Sc serta menghadirkan tim dari RS Budi Kemuliaan Jakarta. RS dr
Soesilo Kabupaten Tegal sebagai bagian dari Tim Pendamping.
Sepanjang tahun 2013 terdapat 1.813 persalinan yang
terjadi di RSUD Brebes. Dari jumlah tersebut, angka kematian ibu mencapai 17
jiwa, sedangkan angka kematian bayi mencapai 122 jiwa. Tidak hanya itu, jumlah
bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah mencapai angka 527 dan jumlah bayi asfiksia,
bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur, capai 232
bayi.
Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti SE mengatakan,
seluruh elemen tim kesehatan, tanpa kecuali harus terus meningkatkan kerja dan
kinerjanya. Ia percaya bahwa RSUD Brebes bersama puskesmas-puskesmas termasuk
tenaga kesehatan yang ada di wilayahnya akan terus berusaha memberikan
pelayanan terbaik.
“Pemkab akan mendukung semaksimal mungkin, mulai
dari dukungan secara regulasi, dukungan anggaran hingga dukungan operasional,”
ujar bupati. (look)
Senin, 27 Januari 2014
Brebes Gelar Pilkades Meski Banjir Merajalela
Brebes, hariandialog.com/Dialog – Pesta Demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) digelar serentak sebanyak 37 desa hari Senin (20/1) di Kabupaten Brebes bagian utara, Jawa Tengah, meski banjir lagi merajalela dimana-mana termasuk di Kabupaten Brebes sendiri.
Dari tiga puluh tujuh desa, tercatat ada delapan puluh tiga calon kepala desa dari lima kecamatan yang ada di Kabupaten Brebes, yakni Kecamatan Brebes, Kecamatan Wanasari, Kecamatan Bulakamba, Kecamatan Tanjung dan Kecamatan Losari.
Bupati Brebes, Idza Priyanti, SE. mengharapkan agar semua calon dapat mengendalikan pendukungnya agar pilkades berjalan lancar hingga usai nanti.
“Intinya bagi semua calon kades harus siap sebagai menang dan siap untuk kalah,” lanjut Idza.
Kapolres Brebes AKBP Ferdy Sambo, mengatakan bahwa semua kontestan, yang sebelumnya sudah berikrar damai (16/1) di Pendopo Kecamatan Bulakamba, kini harus bisa menjaga keamanan. Untuk calon terpilih harus mampu melaksanakan tugas dengan baik. Bagi yang belum beruntung juga harus tetap menjaga keutuhan keamanan di desanya masin g-masing.
“Untuk itu semua calon kepala desa harus bisa bersaing secara sehat,” kata Ferdy. (look)
Kamis, 02 Januari 2014
Brebes Masuk Indikator Daerah Sarang Koruptor
Brebes, hariandialog.com/Dialog – Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dinilai masuk dalam indikator daerah sarang koruptor oleh Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GNPK) Pusat. Hal itu dilihat dari pelayanan publik yang diberikan kepada masyarakat belum maksimal juga banyaknya proyek pembangunan yang hasilnya tidak maksimal dan cepat rusak.
Adi Warman, SH. MH. ketua GNPK Pusat menilai, ada tiga indikator yang telah dipenuhi Brebes sebagai sarang koruptor. Indikator pertama adalah bentuk pelayanan publik yang jelek, kedua adalah proyek-proyek pembangunan daerah yang mutunya jelek. Banyak proyek jalan yang baru dikerjakan, tetapi tidak lama sudah rusak kembali. Bahkan, rusaknya jalan itu bisa “menjadi tanda” kalau masuk wilayah Brebes. Indikator ketiga, masih banyak buruh menerima gaji tidak sesuai Upah Minimum Regional (UMR).
“Kalau tiga indikator ini terpenuhi, bisa dipastikan Brebes menjadi sarang koruptor. Oleh karena itu, kami berharap ke depan GNPK bisa lebih fokus dalam mendukung upaya pemberantasan korupsi,” ujar Adi.
Indikator suatu daerah bebas korupsi, lanjut dia, bukan karena banyaknya pejabat yang korup masuk penjara atau anggota DPRD masuk penjara. Melainkan, ketika pelayanan publik yang diberikan suatu daerah itu baik.
“Jadi indikatornya bukan pada person, tetapi kepada pelayanan publik yang baik. Ketika ada gedung pemerintah yang baru selesai dibangun kemudian roboh, itu pasti terjadi korupsi,” tandasnya.
Disinggung terjadinya dualisme kepengurusan GNPK di Brebes, Adi menjelaskan, hal itu terjadi karena masyarakat Brebes semangat untuk berperan aktif mendukung upaya berantas korupsi. Masalah dualisme kepengurusan sudah diselesaikan dengan digelarnya Musda dan GNPK Brebes baru-baru ini. (sisono)
Selasa, 17 Desember 2013
399.889 Warga Belum Ber-e-KTP di Brebes
Brebes,
hariandialog.com/Dialog
– Berkisar 399.889 dari 1,4 juta warga hinga akhir bulan November
kemarin tercatat belum melakukan perekaman Kartu Tanda Penduduk
elektronok (e-KTP) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Kebanyakan
warga yang belum melakukan perekaman karena berada di luar kota juga
ada yang menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ke luar negeri dan
sebagian sudah pindah alamat.
Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil)
dan petugas kecamatan di
Kabupaten Brebes
hingga saat ini secara aktif mendatangi warga yang belum melakukan
perekaman.
Petugas
melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang belum melakukan
perekaman, ujar Drs Asmuni, Kepala Disdukcapil Brebes.
Namun
hasilnya belum begitu memuaskan
dan sebagian warga tidak mengindahkan imbauan pihak Disdukcapil dan
petugas dari kecamatan karena kesadaran masyarakat untuk mengurus
administrasi kependudukan berupa perekaman e-KTP masih rendah.
Karena
semuanya warga belum melakukan perekaman, maka akan berdampak
langsung pada beberapa hal seperti sulitnya Lembaga Penyelenggara
Pemilu memastikan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Sebab e-KTP adalah Data
Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang digunakan KPU untuk
acuan penetapan DPT.
Apabila
KPU
kesulitan memastikan jumlah DPT, pada
akhirnya
publik akan menyalahkan penyelenggara dan Kementerian Dalam Negeri
(Kemendagri) sebagai penyedia basis data DPT. Padahal, pihak
kementerian sudah berusaha agar semua warga melakukan perekaman e-KTP
melalui setiap kantor kecamatan terdekat.
“Kesadaran
ini yang belum dimiliki semua warga. Padahal perekaman e-KTP ini
untuk kemudahan mereka sendiri,” lanjut
Asmuni.
Terpisah,
Ketua
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Brebes, Muamar
Riza Pahlevi menjelaskan,
hingga Desember
2013
ini masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan persoalan ribuan
DPT invalid. Dikarenakan
data awal yang diberikan oleh
Disdukcapil
ketika dikroscek banyak yang tidak sesuai
karena sudah ada
yang pindah, meninggal atau tidak memiliki kartu identitas yang baru.
(look)
Wakil Bupati Brebes Pernah Dorong Mobil Dinas yang Mogok
Brebes,
hariandialog.com/Dialog
– Tahun 2013 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes, Jawa Tengah,
membelanjakan Rp.1,5 miliar untuk membeli mobil mewah. Mobil tersebut
diberikan kepada Wakil Bupati, Kepala Pengadilan Negeri dan Kepala
Kejaksaan Negeri Brebes.
Duet
bupati dan wakil bupati Idza-Narjo
keduanya suka berfoya-foya. Seperti yang dikatakan Darwanto dari LSM
Gebrak Brebes, pembelian mobil mewah (2 unit Nissan X-trail dan 1
unit Fortuner) tersebut sangat bertolak belakang dengan kondisi belum
dicairkannya dana santunan kematian seniali Rp.1 juta kepada 1.069
warga Brebes.
Pengadaan
mobil mewah bukan kebijakan yang tepat. Sebab tidak jelas manfaatnya
dikarenakan saat ini Pemkab masih memiliki sejumlah kendaraan dinas
yang bisa dipakai. “Pembelian mobil baru hanya menambah daftar
mobil aset Pemda yang selama ini belum dikelola dengan baik,”
lanjutnya.
Wakil
Bupati Brebes, Narjo, menjelaskan pembelian mobil baru tersebut
semata-mata karena alasan kebutuhan demi memperlancar kinerjanya
sebagai pemimpin daerah. Sebab mobil yang lama kerap mogok ketika
digunakan dalam kunjungan ke daerah. Narjo mengaku pernah mendorong
mobil sampai lima kali ketika melakukan kunjungan ke Kecamatan Salem.
Mobil
yang lama sudah tidak mampu digunakan bepergian ke tempat jauh,
padahal setiap hari paling tidak harus mengunjungi 25 desa secara
terpisah.
“Pengadaan
mobil baru bukanlah keinginan kami, tetapi mobil yang lama sudah
tidak memungkinkan untuk dibawa muter-muter ke 25 desa yang berbeda
setiap hari,” tandas Narjo.
Menurut
Rumono dari LSM Gergaji, menyayangkan perilaku dan gaya hidup pejabat
di Brebes, “Harusnya mencontoh perilaku Gubernur Jawa Tengah yang
bersedia menggunakan mobil Avanza sebagai kendaraan dinas.”
Ketiga
pejabat di atas, selama ini gemar bagi-bagi mobil dinas. Padahal
mobil dinas tersebut bisa dikelola untuk mencukupi kebutuhan
operasional jajaran Satuan Kerja Perangkat Desa (SKPD) maupun
Idza-Narjo sendiri, ujar Rumono. (sisono)
Selasa, 10 Desember 2013
3 Heli Mendarat Darurat di Brebes
Brebes, hariandialog.com/Dialog – Tiga heli mendarat secara darurat di Lapangan Desa Kebondalem, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kemarin (9/11) sempat membuat geger warga setempat, bahkan ratusan warga pun berdatangan menyerbu mendekati lokasi.
Pendaratan ini dilakukan karena cuaca buruk, sehingga tiga heli milik Penerbang TNI Angkatan Darat (Penerbad) ini mendarat darurat. Ketiga heli yang mengangkut 16 penumpang ini adalah; satu jenis BO 105 atau jenis heli serang dan dua jenis Bell 412 atau jenis heli angkut, mendarat sekitar pukul 13.00 WIB yang sedianya akan menuju ke Semarang, Jawa Tengah, terbang dari Markas Penerbad Pondok Cabae Jakarta pukul 09.00 WIB yang dijadwadkan paling lama perjalanan tiga jam.
Rencana, rombongan ini (3 heli) mau mengikuti pameran di Surabaya untuk memperingati Hari Juang Kartika TNI AD. Rencananya singgah dulu di Semarang bergabung dengan tim (15 heli) dari berbagai daerah di Indonesia, ujar teknisi Penerbad Sersan Mayor Muamin.
Namun di tengah perjalanan tiba-tiba dihadang oleh cuaca yang tidak mau kompromi. Cuaca yang buruk menhalangi pandangan ini terjadi antara Tegal hingga Pekalongan seperti yang dilaporkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yakni hujan deras disertai angin. “Keadaan seperti ini membahayakan bagi penerbangan akhirnya mendarat,” lanjut Muamin.
Akhirnya sekitar pukul 16.45 WIB cuara reda ketiga heli melanjutkan perjalanan ke Semarang.
Peristiwa ini pun menjadi tontonan gratis warga tidak peduli hujan menguyurnya. Tidak cuma ratusan warga, makin lama bertambah banyak pengunjung bahkan diperkirakan capai ribuan warga yang menyaksikan kejadian langka ini di Desa Kebondalem. Dan oleh warga dimanfaatkan untuk kenang-kenangan foto bersama pesawat tempur jenis heli ini.
Sesekali mereka mendekat sehingga menyulitkan para pilot dan mekanik yang siaga menjaga, “Tolong jangan disentuh dan jangan merokok di dekat heli. Bisa meledak,” ujar Suyatno mekanik heli. (look)
Selasa, 12 November 2013
24 Korban Tindak Perkosaan di Brebes
Brebes, hariandialog.com/Dialog – Di tahun 2013 ini kasus kekerasan anak terus bermunculan. Sampai periode satu semester ini, pihak PPA BKBPP setempat sudah menerima 47 aduan kasus kekerasan terhadap anak. Dalam sejumlah aduan tersebut diantaranya 24 adalah korban tindak perkosaan, ujar Dra Rini Pujiastuti, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kemarin (7/11).
Dikatakan pula, pada tahun 2012 lalu dari 59 kasus kekerasan anak, 53 kasus diantaranya terjadi pada perempuan. Dari 53 kasus tersebut telah menimpa pada anak perempuan seperti seksualitas berupa pemerkosaan adalah yang paling banyak yaitu 26 kasus. Menyusul kekerasan fisik, psikis dan penelantaran berupa pengusiran serta pembuangan oleh keluarga sendiri.
Untuk pemerkosaan biasanya dilakukan oleh teman sepermainan, guru ngaji, ayah tiri ataupun keluarga terdekat sendiri, lanjut Rini.
Kasus kekerasan pada anak dari tahun ke tahun selalu meningkat dan yang lebih tragis sebagian korban adalah selalu perempuan. PPA BKBPP Kabupaten Brebes meyakini jumlah kasus kekerasan anak, khususnya perempuan, sebenarnya masih banyak lagi yang belum teragendakan oleh kami. Disebabkan banyak korban yang enggan untuk melapor perihal tersebut, karena hal ini adalah dianggapnya aib keluarga, jadi malu untuk mengadu ke pihak berwajib. Dan diamkan begitu saja dan hilang ditelan waktu.
M Fathur Rozak, aktivitas Pendamping Forum Anak Kecamatan Sirompang, Kabupaten Brebes, mengatakan, tidak hanya kekerasan yang mengancam anak di Kabupaten Brebes. Namun sejumlah pelanggaran hak anak juga menjadi persoalan lain yang perlu mendapat perhatian khusus.
Forum Anak Kecamatan Sirompang sendiri pada tahun 2013 ini menemukan tindak pelanggaran hak anak yang cukup mencengangkan. Di Desa Plompong, Kecamatan Sirompang, ada temuan 800 anak yang tidak memiliki akta kelahiran. Padahal kepemilikan akta kelahiran merupakan hak setiap anak untuk diakui sebagai Warga Negara Indonesia, tandas Rozak. (sisono)
Langganan:
Postingan (Atom)