Selasa, 10 September 2013

Panitia Seleksi CPNS di Pemalang dari Pusat


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - Tim seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, terdiri dari KPK, Kejaksaan, Kepolisian dan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Ini benar-benar transparan karena Panitia Seleksi (Pansel) berasal dari pusat, ujar H. Junaedi Bupati Pemalang belum lama ini.
Sedangkan konsorsium pelaksanaannya dilakukan oleh Perguruan Tinggi, bisa dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta, bisa dari Universitas Diponegara (UNDIP) Semarang, lanjutnya.
Di Kabupaten Pemalang kali ini yang diadakan adalah seleksi CPNS khusus Kategori (K2) secara transparansi. Proses pelaksanaan persis seperti pelaksanaan Ujian Nasional. Yakni soal test dan jawaban disteples lalu dimasukan dan disegel kembali. Kemudian dibawa ke Jakarta langsung.
Kepada peserta seleksi CPNS khuus K2 agar tidak mempercayai pihak yang menjanjikan bisa meloloskan seleksi tersebut, tambah Junaedi.
Untuk Kabupaten Pemalang sendiri hanya khusus CPNS K2. Untuk yang umum belum ada jatah alokasi karena belum ada keseimbangan antara belanja pemerintah daerah langsung dan tidak langsung .
Jika ada sesorang yang mengaku dekat dengan Bupati, Kapolres, Setda, maupun pejabat lainnya dengan maksud mendatangi para CPNS dan minta jasa atau imbalan dengan nominal tertentu, itu adalah bohong dan tidak benar, tegas Junaedi.
“Saya tidak pernah memerintahkan kepada siapapun untuk perihal tersebut,” ujar Bupati Pemalang belum lama ini di Gedung Serba Guna Pemalang dalam acara halal bi halal keluarga besar Unit Pengelola Pendidikan Kecaamatan (UPPK) Pemalang. (look/sisono)

Tewas Tenggelam di Sungai Comal Saat Mancing


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - Rudi Hasan (22) buruh serabutan asal Desa Susukan Tegalan RT.003 RW.003 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tewas tenggelam di Sungai Comal Minggu (8/9) kemarin.
Rudi yang keseharian sebagai buruh serabutan, belum dikarunia anak menikah sudah dua tahun dengan Erlin (30) asal Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, hari itu benar-benar naas. Sekitar pukul 15.00 WIB Rudi berkeinginan mancing ikan di Sungai Comal dekat rumah mertuwa Desa Kelangdepok.
“Om.. Om.. sebelah sana ikannya banyak,” celetuk salah satu anak-anak yang ada di situ yang ikut mancing, sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Kemudian Rudi bergeser menuju ke tempat tersebut. Yang memang tampak banyak ikan berkecipak riak besar-besar, membuat ngiler dan tergiur untuk mancing di tempat tersebut. Naas tidak dapat ditolak, Rudi tiba-tiba tergelincir kecebur ke Sungai Comal dan tidak timbul lagi. Anak-anak yang melihat Rudi tenggelam pun berteriak minta tolong kesana kemari dan minta bantuan ke penggali pasir yang tidak begitu jauh dari tenggelamnya Rudi.
Bantuan pun berdatangan dari warga untuk mencari keberadaan Rudi. Ternyata di tempat Rudi jatuh setelah dijajagi dengan bambu mencapai kedalaman enam meter lebih. Dan di dasarnya masih ada pasir hisap (warga sekitar menyebut Pasir Mbel). Padahal saat itu kondisi Sungai Comal tidak begitu banjir karena musim kemarau, akan tetapi Rudi terhisap Pasir Mbel langsung tidak muncul ke permukaan.
“Itu kedung mas,” ujar seseorang pada Dialog yang ada di tempat kejadian.
Sejam kemudian pukul 16.00 WIB tubuh Rudi dapat diangkat oleh warga dalam keadaan meninggal dunia. Histeris istri dan keluarga pun tidak bisa dibendung. Visum dokter dilakukan di rumah mertua dan disaksikan oleh aparat Polsek Bodeh. Paginya, Senin pukul 10.00 WIB jasad Rudi dimakamkan di TPU Desa Susukan Kecamatan Comal tempat asal Rudi.
Terpisah, “Kejadian tersebut adalah murni kecelakaan, seperti terlihat dari hasil visum yang dilakukan dokter setempat di rumah mertua Rudi,” ujar Kepala Desa Susukan Irfanudin (Erfan) melalui Kadus Ma’an di balai desa pada Dialog. (look)

Orok Bayi Ditemukan Tergeletak di TPU Ujunggede


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - Ditemukan seorok bayi mungil perempuan terbungkus plastik kresek hitam di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Ujunggede, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Sabtu pagi (7/9).
Orok bayi yang sudah tidak bernyawa tersebut ditemukan oleh pengurus kebersihan makam Ahmad (46) yang awal pertama kali melihat bungkusan merasa curiga. Ternyata setelah didekati dan dibuka berisi bayi mungil lengkap dengan tali pusar dan kemudian oleh warga setempat dibawa ke Puskesmas Kecamatan Ampelgading untuk divisum.
“Diduga lahir tadi malam dalam keadaan hidup,” ujar petugas Puskesmas Kecamatan Ampelgading. Sedangkan kematian bayi yang tidak dikenal asal usulnya dikarenakan kekurangan oksigen karena dibungkus plastik rapat dan kedinginan sepanjang malam.
Mengenai asal usul bayi dan kenapa dibuang oleh orang yang tidak bertanggung jawab masih dalam penyelidikan aparat terkait.
“Penemuan mayat sudah dikordinasikan dengan pihak desa ,” ujar Kapolsek Ampelgading AKP Sudirman kepada Dialog di Mapolsek. Penyelidikan dan pengusutan peristiwa tersebut tetap berjalan sampai ada titik terang.
Terpisah, Kepala Desa Ujunggede melalui Lebe Sachowi menegaskan, semua sudah diurus oleh pengurus makam. Untuk keterangan identitas bayi kami belum bisa menjawab. “Belum ada laporan dari pihak berwajib dan dari warga pun belum ada yang melaporkan,” tandasnya. (kukuh)

Bengkelung dan Kolak Telur


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - “Makanan yang satu ini tidak bisa diproduksi oleh daerah manapun ,” ujar tokoh masyarakat Abu Hasan Sutrisno, Dukuh Bengkelung, Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Sutrino yang akrab dengan panggilan Mbah Kelung ini menjabarkan, pembuatan kolak telur memang unik. Ada resep tertentu yang tidak bisa ditiru oleh orang luar Bengkelung. Dan resep ini tidak akan bocor ke luar wilayah Bengkelung. Inilah yang unik, walau belum ada konsensus bersama, warga Dukuh Bengkelung dijamin 100% akan merahasiakan resep kolak telur.
Diantara keunikannya adalah cara pembuatan kolak telur. Disaat air mendidih 100 derajat celcius kuning telur bebek (itik) langsung dimasukan dalam air yang mendidih tersebut, akan tetapi tetap utuh bulat. Kuning telur tidak pecah atau rusak. Dan bulatan kuning telur setelah matang makin keras dan kenyal, gurih, mengenyangkan, lanjut Mbah Kelung.
Terpisah, Kepala Desa Sarwodadi Sugiyono kepada Dialog menjelaskan, bahwa kolak telur Bengkelung memang sudah dikenal di lingkungan pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Setiap Kabupaten punya hajat atau ada tamu khusus luar kota selalu memesan kolak telur dari sini. Kolak telur tidak bisa ditiru dan diajarkan ke luar wilayah Bengkelung.
“Dukuh lain dalam satu Desa Sarwodadi pun tidak bisa membuat kolak telur,” tandas Giyono kepada Dialog. Kolak telur itik Dukuh Bengkelung memang unik tidak bisa ditiru resepnya oleh siapapun. (look)

Selasa, 03 September 2013

Mengaku Sebagai Juru Kunci Dewi Lanjar


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - Penipuan dengan berbagai modus merebak dimana-mana dan korban banyak yang tidak melapor ke pihak berwajib karena sesuatu hal. Seperti Mbah Iwan (50) Dukuh Mlaki, Desa Wanarejan Utara, Kecamtan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, mengaku juru kunci Bank Ghoib Dewi Lanjar notabene Penguasa Pantai Laut Jawa.
Korban Gl (22) asal Desa Sidorejo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa tengah, yang mengadu keberuntungan pada Iwan lewat jalur pintas “kontrak umur”. Oleh Iwan dikasih bungkusan kecil botol minyak.
Menjelang malam tiba Gl diajak ke tepi pantai untuk ritual silem 7x. Selesai silem disuruh nylentik botol minyak tersebut sampai pecah. Namun Dewi Lanjar yang dijanjikan Iwan tidak kunjung hadir.
“Ini harus diulang lagi besuk biar ketemu Bu Dewi,” ujar Iwan kemudian.
Hari berikutnya diulang. Bu Dewi sang Penguasa Laut Jawa pun tetap tidak muncul. Diduga Iwan hanya akal-akal untuk mendapatkan upar pasien saja. Gl pun mundur kecewa merasa dikelabuhi Iwan. Ia hanya mngumpat.
Ritual kontrak umur dan pinjam bank ghoib, yang dilakukan Iwan korbanya cukup banyak. Setelah dikonfirmasi ke warga setempat, Iwan tidak bisa apa-apa, “Ia hanya tukang pencari rongsok dengan gerobak dorong pergi pagi pulang sore,” ujar warga.
Saat Gl ditemui Dialog belum lama ini, “kenapa tidak lapor ke pihak berwajib,” jawabnya senyum kecut dan malu tanpa kata.
Iwan yang aslinya orang Serang Banten kini ikut istri (Sumiyah) dan tinggal di Mlaki. Ketika Dialog bertandang ke rumah Iwan, ia mengatakan banyak yang sukses melakukan jalan pintas. “Orang jauh-jauh yang sukses, kalo orang Pemalang sendiri ma pada gagal,” ujar Iwan meyakinkan. (sisono)

Suyik Siap Sumpah Pocong


: Suyik Telan Ludah Sendiri

Pilkades Blendung Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tahun lalu sampai sekarang masih menyisahkan polemik berkepanjangan, bahkan kisruh sampai ke ranah hukum dan PN/PTUN pun belum memutuskan vonis akhir.

Pemalang, hariandialog.com/Dialog -  Malam Jumat (29/8) kemarin Suyik yang mantan Kepala Desa Blendung Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, menyatakan secara tertulis siap menjalani sumpah pocong di Balai Desa terkait kasus penggelembungan kartu suara Pilkades tahun lalu, yang sampai sekarang kasusnya belum selesai.
“Kami Suyik sekeluarga dan panitia akan melakukan sumpah pocong,” ujar Suyik dalam pernyataannya.
Namun malam yang telah ditentukan oleh Suyik sendiri, tidak ada paksaan dari pihak manapun, ia tidak menampakan ujung hidungnya. Beberapa wartawan elektronik maupun cetak menuai kekecewaan karena menunggu lama tidak jadi dilaksanakan sumpah pocong. Kekecewaan ini pun dirasakan oleh beberapa warga Desa Blendung, “Suyik pengecut! Suyik stres!” ujarnya lalu pergi kecewa dari kerumunan saat ditanya oleh Dialog.
Tidak cuma beberapa jurnalis, satuan Dalmas dari Pemalang (satu peleton) yang saat itu hadir pun bingung melihat ulah Suyik. Keamanan dari Polsek Ulujami juga sudah siaga penuh di tempat untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Sumpah pocong tersebut sedianya akan dilaksanakan Malam Jumat (29/8) pukul 19.30. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa Suyik tidak melakukan kecurangan dalam pilkades tersebut. “Semoga laknat Allah dijatuhkan kepada kami, apabila kami melakukan hal (kecurangan) tersebut,” ujar Suyik sebelumnya.
Silahkan warga menyaksikan ritual tersebut. Semoga hal ini, semua warga akan hidup damai dan berdampingan tidak membedakan kelompok yang satu dengan lainnya, tandasnya. Namun detik-detik yang dijanjikan hanya pepesan kosong belaka, ibarat Suyik telah menelan ludah sendiri. (look)

Apem Comal dan Kamir Arab Khas Pemalang


Pemalang, hariandialog.com/Dialog - Kedua kue ini (Apem Comal dan Kamir Arab) awal mula bukan produk Pemalang, Jawa Tengah, ujar Mulyono (43) warga Pemalang kepada Dialog saat berkeliling Pasar Pagi Pemalang sambil mencicipi kamir arab.
Kamir Arab, konon pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Arab yang tinggal dan menetap di kota Pemalang sejak lama. Karena berkembangnya waktu pembuatan kamir diteruskan oleh penduduk pribumi Pemalang dalam bentuk home industri (usaha kecil) sebagai penghasilan utama atau mata pencaharian mereka.
Dan warga keturunan Arab yang notabene pembawa jajan ini masuk ke Pemalang sudah tidak ada lagi yang memproduksi. Sekarang diproduksi oleh warga asli Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kamir Pemalang ini pemasarannya sudah sampai ke luar negeri seperti Negeri Brunei. Bahkan Artis Top Jakarta pun banyak yang sudah kesengsem berat terhadap Kamir Pemalang yang satu ini. Mereka setiap kali mampir ke Pemalang selalu memburu kamir buat buah tangan yang ada di Jakarta.
Di Kelurahan Mulyohajo yang terkenal adalah Kamir Arab “Bu Dijah” yang kini diteruskan oleh anaknya yaitu Ny. Khafifah yang belajar langsung dari ibunya Bu Dijah/Khodijah sejak kecil. Daya tahan kue kamir relatif lama karena bisa dihangatkan lagi sebelum basi.
“Bagi pembeli dari luar kota bisa beli kemasan kue kamir di toko roti atau penjual jajan di sepanjang Jalan Ahmad Yani Pemalang,” ujar Fifah. Bagi yang sudah tahu lokasi pembuatnya terkadang langsung ke rumah karena lebih puas dan harga pun agak sedikit miring (dapat diskon).
Seperti halnya Kamir Arab, Apem Comal pun asal muasal bukan dari kota Comal Pemalang, melainkan dari kota tetangga yakni Kesesi Pekalongan. Oleh karena sejak pertama kali memproduksi, dari turun temurun mereka selalu berjualan di Pasar Comal. Maka kini terkenalah dengan Apem Comal. Bahkan sudah sah menjadi makanan khas asli Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Dua jenis kue ini, Apem Comal dan Kamir Arab mempunyai sejarah yang unik. Satunya dari Arab dan yang satunya dari Pekalongan, dan kini menjadi makanan atau kue khas asli Pemalang. (kukuh)