Jumat, 14 Juni 2013

TIM Satker PT. KAI Obral Janji


Pemalang, Dialog - Pembangunan jalan permanen desa yang pernah dijanjikan oleh Tim Satuan Kerja (Satker) dan Pimpinan PT. KAI Daop IV Semarang, pada tanggal 8 Agustus 2009 silam, ternyata hanya isapan jempol belaka. Ibarat menanti turunnya hujan di musim kemarau panjang. Rakyat kecil kini kembali menjadi tumpuhan tumbal kesewenang-wenangan kekuasaan.
Berawal dari musyawarah sosialisasi yang diadakan di Balai Desa Tumbal, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang (8/8/09) adanya proyek PT. KAI (Kereta Api Indonesia) akan membuat “Rel Ganda ” yang dihadiri oleh Kades Tumbal, Perangkat Desa dan pemilik tanah warga, Tim Satker PT. KAI di Pekalongan dan Semarang, Petugas BPN Kabupaten Pemalang, Muspika Comal dan pihak dari Bank Mandiri KCP Tegal.
Dari hasil musyawarah tersebut di atas warga Desa Tumbal setuju apabila tanahnya dipergunakan untuk proyek Rel Ganda PT. KAI demi kemajuan perkeretaapian Indonesia. Untuk tanah sawah diganti rugi rata-rata Rp. 250.000,-/meter, untuk tanah darat masing-masing tempat berbeda sebab ada yang nerjang rumah, pohon, dan cuma kebun biasa. Warga siap dengan catatan jalan perekonomian yang sejak dulu keberadaannya menghubungkan Kecamatan Comal (Pemalang) dengan Kecamatan Sragi (Pekalongan) tidak dimatikan. Akses penting yang menghubungkan 2 (dua) kabupaten ini adalah jalan satu-satunya yang mau tidak mau harus melalui penyebrangan Rel Ganda. Pelaksanaan pembebasan lahan berjalan lancar dan sudah klir semua.
Oleh karena, kini Rel Ganda sudah terpasang, maka warga masyarakat memohon dibuatkan jalan perekonomian pedesaan yang permanen sesuai dengan kesepakatan hasil musyawarah yang lalu, demi keamanan keselamatan dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
Kami warga masyarakat Desa Tumbal sepakat siap untuk membantu lancarnya proyek Rel Ganda di lingkungan Desa Tumbal, sekaligus membantu sarana dan prasarana proyek. Tapi yang namannya janji ya tetap janji belaka, pelaksanaannya tidak pernah disosialisasikan. Yah, lebih tepat disebut hanya isapan jempol belaka, kata Tarweh Hadibasoeki selaku tokoh masyarakat setempat sebagai juru bicara wakil warga saat musyawarah, yang juga pensiunan Bendahara PG (Pabrik Gula) Sragi bicara lantang tanpa tedeng aling-aling demi kebenaran.
Lanjutnya, surat permohonan pun sudah kami ajukan agar dibuatkan jalan perekonomian desa yang menghubungkan 2 (dua) kabupaten (Pekalongan-Pemalang) tersebut pertanggal 30 Oktober 2011, ditujukan kepada yang terhormat Pimpro Satker Pekalongan Dirjen Perkeretaapian Departemen Perhubungan di Jalan Taman Dieng No.1 Semarang. Tindasan disampaikan kepada yang terhormat Bupati Pemalang, Ketua DPRD Kabupaten Pemalang, dan Pimpinan PT. KAI Daop IV Semarang. Namun sampai hari ini belum membuahkan hasil. Pihak Desa (Syaiful Qirom, Kades saat itu) dan Kecamatan Comal (Sugiyono, SIP. Camat saat itu) pun menemui jalan buntu, padahal mekanisme permohonan sudah dibuat dengan benar sesuai jalur hukum dan menurut tatanan yang ada. Apa harus berdemo? Tandasnya.
Ternyata kini terbukti, bahwa pihak proyek sama sekali tidak pernah peduli dengan masyarakat kecil, akan tetapi masyarakat kecil-lah yang diwajibkan dan sangat peduli dengan proyek pemerintah, ikut berpartisipasi sebagai warga negara yang baik, tambahnya.
Kini warga hanya pasrah. Rencana pembuatan jalan permanen yang panjangnya 1 km tersebut jika dikerjakan dengan swadaya desa dan atau kecamatan tidaklah mungkin sebab tidak ada posko anggarannya. Dan juga jalan yang lebar 5 m dari talud yang panjang 1 km adalah tanah milik PT. KAI dan pihak PT. KAI telah menyanggupi pembuatan jalan permanen perekonomian rakyat tersebut untuk warga.
Padahal jalan tersebut adalah satu-satunya jalan alternatif perekonomian pedesaan di Desa Tumbal, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, kini terbengkelai entah kapan mau digarap. Tim Satker PT. KAI Daop IV Semarang bukan semata-mata membual akan tetapi secara tidak langsung ingin mematikan perekonomian rakyat kecil, ini lebih kejam dari serdhadhu VOC di jaman penjajahan. (loOk)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar